Genre: Action, Drama, Sci-Fi Sutradara: Ryan
Coogler Rilis: November 2022
Sepeninggal Raja T'Challa (Chadwick Boseman), dunia
bertanya-tanya: siapa yang akan melindungi Wakanda? Ryan
Coogler menjawab pertanyaan itu bukan dengan menghadirkan sosok laki-laki
pengganti (seperti M'Baku), melainkan dengan menyerahkan panggung sepenuhnya
kepada para perempuan Wakanda.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi yang menaruh minat pada
studi representasi, Black Panther: Wakanda Forever lebih dari
sekadar film superhero Marvel biasa. Ini adalah sebuah studi kasus tentang
kepemimpinan perempuan di tengah duka kolektif.
Beban Emosional pada Karakter Perempuan
Film ini tidak memberikan waktu bagi penonton untuk
bernapas. Kita langsung dihadapkan pada Shuri (Letitia Wright) yang
berjuang dengan rasa bersalah karena gagal menyelamatkan kakaknya dengan sains,
dan Ratu Ramonda (Angela Bassett) yang harus memimpin negara
adidaya sambil menyembunyikan kehancuran hatinya.
Di sinilah letak kekuatan film ini. Jika di film superhero
lain perempuan sering kali hanya menjadi pemanis atau love interest,
di sini mereka adalah penggerak utama narasi.
- Ramonda merepresentasikan Otoritas
dan Ketegasan. Pidatonya di PBB adalah salah satu momen paling ikonik
yang menunjukkan bagaimana seorang pemimpin perempuan melindungi
kedaulatannya.
- Okoye
(Danai Gurira) merepresentasikan Loyalitas dan Kehormatan.
Konflik batinnya saat dilucuti dari jabatannya sebagai Jenderal Dora
Milaje menunjukkan sisi manusiawi dari seorang prajurit terkuat.
- Nakia
(Lupita Nyong'o) hadir sebagai Ketenangan dan
Kebijaksanaan, penyeimbang emosi Shuri yang meledak-ledak.
Transformasi Shuri: Dari Ilmuwan ke Pelindung
Perjalanan karakter (arc) Shuri adalah representasi
"Heroic Woman" yang paling kompleks. Ia tidak tiba-tiba menjadi kuat.
Ia marah, ia dendam, dan ia rapuh. Representasi ini penting karena mematahkan
stereotip bahwa "perempuan kuat" itu harus selalu tabah tanpa emosi.
Kekuatan Shuri justru lahir dari prosesnya berdamai dengan kesedihan (grief),
bukan dengan menolaknya.
Antagonis yang Memaksa Evolusi
Kehadiran Namor (Tenoch Huerta) sebagai
antagonis berfungsi efektif untuk menguji kepemimpinan para perempuan ini.
Namor bukan sekadar penjahat; ia adalah pemimpin yang melindungi rakyatnya
(Talokan), sama seperti Ramonda melindungi Wakanda. Dinamika ini memaksa Shuri
untuk memilih: memimpin dengan dendam atau dengan diplomasi?
Kesimpulan
Secara visual, film ini memukau dengan kostum rancangan Ruth
E. Carter yang kembali menonjolkan estetika Afrofuturisme. Namun, naskahnyalah
yang menjadi juara. Wakanda Forever berhasil membuktikan bahwa
narasi kepahlawanan tidak harus maskulin.
Bagi saya, film ini memberikan definisi baru tentang
"pahlawan". Pahlawan bukan hanya mereka yang memiliki fisik terkuat,
tapi mereka yang mampu bangkit dari rasa kehilangan yang mendalam untuk
melindungi apa yang tersisa.
Skor Pribadi: 4.5/5 Rekomendasi: Wajib
tonton bagi penikmat studi budaya dan film, terutama yang tertarik pada isu
gender dalam media populer.
